Sebuah makna dan pesan tersirat dilambangkan kera yg dipakaikan kain khas Lampung sebagai simbol icon maskot yg diluncurkan KPU Bandar Lampung, menuai banyak protes dan tanggapan beberapa pihak salah satunya tokoh muda serta budayawan asal Lampung tengah yaitu M. Arif Sanjaya.
M. Arif Sanjaya yang biasa akrab dengan sapaan Ahi Arif beliau berkata : "Makna dan pakaian yg dipakai kera adalah sebuah ejekan yg dikemas secara halus oleh pihak penyelenggara pemilu dalam launcing icon KPU Bandar Lampung."
Lanjutnya Ahi Arif -: "kera adalah satu binatang yg dibenci oleh masyarakat asli Lampung, sebab kera adalah lambang dari keserakahan. Dalam istilah Lampung ada peribahasa dang nawai lakeu kero (jangan ikut sifat kera). Apalagi sebuah kain atau sinjang tumpal dipakaikan oleh seekor binatang apapun itu tidak dibenarkan atau diterima oleh masyarakat Lampung terkhusus masyarakat adat Lampung, kita memaklumi KPU itu adalah icon tpi disisi lain ini adalah sebuah budaya lampung yg penuh makna sakral".
Ahi Arif selaku tokoh muda budayawan lampung tengah meminta KPU Kota Bandar Lampung mengudang masyarakat adat Lampung untuk meklarifikasi maksud dan tujuan launching icon yg memakai pakaian khas Lampung.
Diketahui Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bandar Lampung melakukan peluncuran maskot Kedaulatan Rakyat Bandar Lampung (Kerabat) untuk Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Kota Bandar Lampung periode 2024-2029 di Bandar Lampung, Lampung, Mingu (19/5/2024).
"Jangan anggap enteng dan semena-mena terkait pakaian Kera ini yg telah menimbulkan protes berbagai kalangan terutama budayawan serta masyarakat adat Lampung. Saya meminta icon pemilu ini jangan memakai pakaian Lampung di binatang karena kurang pas dan tak elok". Tutupnya Secara Tegas, Minggu (19/05/2024)
Harapannya kepada semua pihak yg terlibat dalam pelucuran icon kera (Kerabat) ini bisa memaklumi serta memahami maksud dan tujuan apa itu arti kesakralan adat peratei Lampung.



Posting Komentar